ALLAH BAYAR SECARA TUNAI

ALLAH BAYAR SECARA TUNAI

ALLAH BAYAR SECARA TUNAI
(Wajib baca kalau anda seorang anak manusia)

Dikisahkan oleh seorang ustadz dinegeri Jiran (kisah nyata)

1 hari saya pergi ke satu Rumah Panti Jompo,
Seorang sahabat meminta bantuan,
Agar saya dapat menyalurkan bantuan kepada orang miskin,

Saya belikan kain sarung,
Beli roti,
Dll,
Saya pun pergi ke Panti Jompo yang saya kenal,
Tak usah saya sebut namanya,

Saat sampai kendaraan kami di perkarangan Panti Jompo tsb,
Tiba-tiba ada seorang ibu tua berlari dari asrama (panti) mendekati saya,
.
"Ye...
Ye...
Anak aku datang,
Anak aku datang,
Senangnya anak aku datang..."

Saya tak mengenal beliau siapa,
Ibu itu memeluk saya,
Dia cium saya,

Baca Juga: 
  • Mengatasi Rasa Was-was dalam Hati
  • Cara Agar Sabar dalam Mendidik Anak

  • 0rang tua itu berkata...

    "Nak...
    Kenapa tinggalkan ibu disini nak,
    Ibu mau pulang...
    Ibu rindu rumah kita..."

    Saya waktu itu...
    Hampir tak bisa berkata-kata,
    Ya Allah...
    Saya coba mengucapkan kata...

    "Bu..."

    Saya pegang tanganya,
    Saya lihat mukanya,
    Dia bilang...

    "Sampai hati nak,
    Kau tak mengaku aku ini ibu kau..."

    Bisa saya bayangkan,
    Bagaimana perasan beliau begitu rindu pada anak nya,
    Saya coba berpura-pura,
    Seolah-olah saya anaknya, saya berkata...

    "Bu...
    Maafkan saya ya..."

    Saya pegang tangannya, saya ajak duduk atas kursi,
    Saya ambil roti, dl
    Dan saya suapkan ke mulutnya,
    Tak terasa menetes air mata dipipi,

    Mencoba bayangkan,
    Hati seorang ibu yang rindu kepada anaknya,
    Bila kita anaknya,
    Mengambilkan sepotong roti,
    Kita suapkan kemulutnya,
    Bagaimana perasaan beliau ?
    Bagaimana perasan kita ?

    Saya coba usap air matanya yang meleleh dipipi,
    Dia pegang tangan saya,
    Subhana Allah...
    Saya bisa merasakan bagaimana perasaan beliau yang begitu rindu kepada anaknya,

    Saat saya hendak pulang,
    Dia pegang kaki saya sambil berkata...

    "Nak...
    Jangan tinggalkan ibu nak,
    Ibu mau balik,
    Ibu mau pulang..."

    Akhirnya saya minta izin dengan pihak pengawas panti di situ,
    Melihat data beliau ternyata anaknya ada 5 orang,
    Yang paling besar bergelar Tan Sri,
    0rangnya memang kaya,
    Punya nama besar,
    Dan hebat orangnya,

    Waktu saya izin pulang,
    Dia pegang baju saya,
    Dia bilang mau ikut saya pulang,
    Saya bilang
    "Di mobil ada banyak barang",
    "Tak apa kata ibu itu,
    Saya duduk sama barang-barang,
    Itu"...

    Akhirnya saya izin ke pengelola panti untuk membawa ibu itu selama 5 hari saja,

    Pulang ke rumah saya,
    Sholat Subuh saya jadi Imam dia makmum di belakang,
    Saya baca doa, sl
    Saya tengok air mata beliau jatuh,
    Selesai doa saya salami beliau,
    Saya cium tangannya,
    Saya bilang...

    "Bu...Maafkan saya ya..."

    Waktu itu,
    Saya tak membayangkan,
    Kalau ibu saya sudah meninggal,
    Tapi saya bayangkan ibu ini adalah ibu saya,
    Sebab dia rindu pada anak-anaknya,

    Di hari ketiga di rumah saya,
    Waktu Sholat Isya',
    Selesai doa saya salami beliau,
    Dia lapisi tangannya dengan kain mukena-nya,
    Dia salam,

    Saya bilang...

    "Bu...
    Kenapa ibu lapisi tangan ibu ?,
    2 hari yang lalu ibu salam,
    Ibu tak lapisi tangan ibu dengan saya,
    Kenapa hari ini ibu lapisi tangan ?"

    Dia bilang...

    "Ustaz...
    Kau bukan anak saya kan..."

    Subhanaallah...
    Tiba-tiba dia sebut nama saya "Ustaz",
    Saya bilang...

    "Kenapa ibu panggil saya ustaz ?
    Saya anak ibu..."

    Dia berkata...

    "Bukan...
    Kalau anak saya dia tak akan seperti ini,
    Kalau anak saya dia tak akan jadi imam saya,
    Kalau anak saya dia tak akan suap saya makan..."

    Bayangkan sahabat-sahabat bagaimana perasaan ibu ini,
    Spontan saya pegang dia,
    Saya peluk dia,
    Saya menangis,
    Saya bilang...

    "Bu...
    Walaupun bukan ibu saya,
    Tapi saya sayang ibu seperti ibu saya..."

    Saya pegang tangan ibu ini...
    Walaupun bukan ibu saya,
    Tapi saya tahu hatinya sangat rindu dekat dengan anaknya,
    Waktu itu saya pandang wajahnya,
    Saya bilang...

    "Bu...
    Walaupun ibu saya telah tiada,
    Tapi ibu boleh ganti menjadi ibu saya,
    Ibu duduklah di sini..."

    Saat makan,
    Saya suapkan nasi ke mulutnya,
    Dia muntahkan balik makan dari mulutnya,

    Saya tanya...

    "Kenapa bu ?"

    Tiba-tiba saya lihat wajahnya pucat,
    Saya angkat dia,
    Panggil ambulan antar ke rumah sakit,

    Waktu di RS,
    Saya ambil kepalanya dan saya rebahkan ibu ini,
    Dia pegang tangan saya dia berkata...

    "Ustaz...
    Kalau saya mati,
    Tolong jangan beritahu sorang pun anak saya,
    Kalau saya sudah mati,
    Jangan beritahu mereka di mana makam saya,
    Kalau mereka tahu di mana kubur saya,
    Jangan izinkan dia pegang batu nisan saya..."

    Saya pegang beliau saya berkata...

    "Bu...
    Jangan ngomong seperti itu,
    Bu..."

    Isteri saya menangis di sebelah,
    Anak saya menangis di sebelah memegang dia,
    Kami pegang dia...

    "Bu...
    Jangan ngomong seperti itu,
    Bu..."

    Dia geleng kepala,
    Rupa-rupanya itulah saat penghujung hayatnya,
    Akhirnya dia pun meninggal di atas ribaan saya di rumah sakit itu,

    Dia meninggal dalam pelukan saya,
    Saya doakan Ibu Hajjah Khalijah ini ruhnya mudah-mudahan bersama Salafusoleh,

    Sahabat,
    Bila kita masih ada ibu,
    Tolonglah taat pada ibu kita,
    Jangan durhaka pada ibu kita,
    Jangan tinggalkan dia di Panti Jompo,
    Saat ibu kita sakit kita jaga dia,
    Pijat-pijat kepala dan kaki ibu kita...

    Sahabat-sahabat coba tanya ibu kita...

    "Bagaimana penderitaan ibu saat mengandung saya dulu ?
    Bagaimana sakitnya ibu saat melahirkan saya dulu ?"

    Tanya ibu kita sahabat-sahabat sekalian...
    Kalau kita tanya sudah tentu air mata ibu kita akan jatuh,
    Karena itu sahabat-sahabat suapkanlah makanan pada ibu kita...

    Sahabat-sahabat semua...
    Selepas wafatnya ibu ini, ternyata berita kematiannya sampai juga kepada anaknya yang sulung,
    Anak dia terus telefon saya...

    Apa anaknya bilang pada saya...

    "Saya akan bawa anda ke pengadilan,
    Saya akan tuntut anda telah membawa keluar ibu saya dari dari Panti Jompo"...

    3 tahun dia titipkan ibunya di Panti,
    Dia tak pergi lihat,
    Sebab itu ibunya rindu,
    Hingga ibu itu tak bisa membedakan saya dengan anaknya...

    Akhirnya saya tunggu,
    Tunggu punya tunggu tidak ada kabar hampir setahun lebih,
    Saya pergi ceramah di Masjid di daerah pecinaan,
    Selesai saya ceramah datang seorang lelaki memeluk saya,

    Menangis dalam masjid,
    0rang dalam masjid heran,
    Ada apa ini,
    Saya tanya pada dia...

    "Pak,
    Ada apa ini ?
    Ada masalah apa...?"

    Dia berkata dalam keadaan menangis...

    "Ustaz...
    Tolong kasih tahu di mana makam ibu saya ustaz ?
    Tolong kasih tahu di mana kubur ibu saya ?"...

    Saya bilang...

    "Kenapa hari ini baru tanya kubur ibu kamu ?"...

    Dia bilang...

    "Tolonglah ustaz...
    Saya mau jumpa ibu saya ustaz,
    Sayalah orang yang bergelar Tan Sri yang mau menuntut ustaz saat itu...
    Saya sekarang ini sudah bangkrut ustaz,
    Isteri saya mati kecelakaan,
    Rumah disita bank,
    Mobil mewah saya semua dah disita bank,
    Tinggal 1 saja,
    Motor tua itu..."

    Saya berkata...

    "Saya bisa tunjukkan makam ibu kamu,
    Tapi dengan 1 syarat,
    Kamu jangan pegang batu nisan ibu kamu..."

    Sampai di pemakaman,
    Tak sempat saya turun dari mobil,
    Dia turun duluan,
    Saya lihat didepan mata saya sendiri dia jatuh tersungkur tangan nya menjadi hitam,
    Mulutnya tertarik sebelah yang tadi awalnya tangan dan mulutnya baik-baik saja,
    Sambil memanggil-manggil...

    "Ibu...
    Ibuuu...
    Ibuuuuu..."

    Tiba-tiba saya angkat dia tak jauh dari makam ibunya belum sampai ke kubur ibunya,
    Dia sudah hembuskan nafas terakhir disamping makam ibunya...

    Allahu Akbarrr...

    Mengucap panjang saya...
    Allah SWT tunjukkan kepada saya,
    Dikehidupan ini balasan anak yang durhaka pada ibu dan ayahnya,

    Semoga kisah ini menjadi pelajaran di luar sana,
    Ambillah iktiar dari kisah di atas,.

    "Dan apabila mata ibumu sudah tertutup,
    Maka hilanglah satu keberkatan disisi Allah,
    Yaitu doa seorang ibu"'


    Sekarang anda mempunyai 2 pilihan,
    1. Biarkan Tulisan ini berada di page ini supaya orang lain tidak membaca,
    2. Menyebarkan ke Teman yang lain dengan klik 'Bagikan' supaya orang lain ikut terinpirasi dan Inysa Allah mendapat pahala,

    Silahkan Di Share Ya...
    Semoga yang Klik Suka dan Share Akan Ditambahkan Rezekinya,
    Dan Diangkat Penyakitnya...
    Amin

    Cara Mengatasi Masalah Inner Child

    INNER CHILD KU = MASALAH TERBESARKU?
    By: Amalia Sinta

    Apakah inner child itu
    "Mbak Sin, aku udah baca teori parenting ini itu. Tapi kenapa aku masih gampang meledak-ledak ke anak ya? Padahal sebelum nikah, aku orang yang sabar. Sekarang anak bertingkah dikit, langsung aku bentak-bentak" 😭
    ♧♧♧

    "Aku nyesel banget abis cubit paha anak sampe dia nangis kejer, mbak. Aku marah karena dia buang-buang makanan yang udah capek-capek ku masakin. Dia bilang gak suka menunya. Tapi aku terlanjur kesel jadi aku paksa dia makan. Aduuh, aku kok jadi kaya mamaku ya mbak, yang dulu suka maksa dan cubitin aku biar mau makan.." 😣
    ♧♧♧

    "Hampir tiap malem aku ciumin anakku yang lagi tidur, mbak. Itu caraku minta maaf ke dia. Meski aku tau, itu gak bisa menghapus kesalahanku yang gak bisa nahan amarah dan suka hukum dia dikurung di kamar. Aku cuma pengen dia dengerin aku sebagai orang tuanya mba. Sebetulnya aku gak mau begitu. Karena aku tau rasanya gak enak banget, kaya yang dulu sering aku rasain saat dihukum ayahku.." 😢
    ♧♧♧

    Mengapa rasanya kita susah sekali untuk tidak marah ya? Padahal hanya untuk hal kecil. Seolah kata sabar hanya menjadi nasihat tanpa makna. Mengapa rasanya sulit sekali mengontrol emosi? Walau hanya untuk hal sepele. Seolah jawaban atas doa agar tak emosional tak kunjung datang.

    Bunda, Mungkin masalahnya bukan pada diri anak balita kita, yang memang sedang masanya bertingkah macam-macam. Mungkin masalahnya ada dalam diri kita sendiri. Mungkin inner child dalam diri kitalah yang bermasalah.

    INNER CHILD adalah sosok anak kecil yang ada dalam diri kita saat ini. Inner child menyimpan memori dan emosi tertentu atas sebuah kejadian di masa kecil. Inner child bisa positif yaitu sosok anak kecil yang menyimpan memori dan emosi tentang kebahagiaan, misal rasa senang gembira saat piknik dan tertawa lepas di saat itu. Inner child bisa pula negatif, yaitu sosok anak kecil yang menyimpan memori dan emosi negatif, yang sering disebut inner child yang bermasalah.

    Sosok inner child yang bermasalah ini bisa berupa anak di beberapa rentang usia, tergantung usia kita saat mengalami kejadiannya. Misal bisa berupa usia 3 tahun yang merasa kesepian karena tak mendapat cukup waktu, perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Orangtuanya sibuk mencari harta, hingga lupa di rumah mereka punya harta paling berharga yang bernama anak.

    Bisa berupa anak usia 4 tahun yang memendam kesedihan dan kekecewaan pada orangtua yang terasa tidak adil. Dia tak pernah paham, kenapa menjadi kakak harus selalu mengalah. Dia tidak mengerti, kenapa benar ataupun salah, dia harus dihukum dalam kamar mandi yang terkunci karena berantem dengan adiknya. 😭

    Bisa berupa anak usia 5 tahun yang trauma atas bentakan dan pukulan dari ayahnya ataupun dibully teman sekolahnya. Si anak tak bisa mengerti, mengapa orangtuanya langsung berteriak marah saat melihat jam dinding sudah menunjuk ke angka tertentu. Dia harus segera memenuhi jadwalnya untuk mandi atau tidur, jika tidak, dia akan kena pukul Orangtuanya tak mau peduli, bahwa dia hanya butuh waktu sedikit lagi menyelesaikan susunan lego yang sedang dirangkainya dengan susah payah. Ia tak pernah diberi kesempatan untuk berpendapat.

    Dari kumpulan aneka peristiwa selama hidupnya ketika kecil, akan tercipta beberapa inner child yang bermasalah dalam diri seseorang. Ketika sekarang kita mengalami peristiwa yang sama, meski posisi kita sudah berubah jadi ibu, memori akan membangunkan lagi inner child yang lama tertidur. Dia akan marah, sebagai wujud ekspresi emosinya yang dulu tertahan. Maka kita menjadi ibu yang pemarah. Yang sebenarnya kita marah pada orangtua kita dulu, namun melampiaskannya ke anak kita sekarang. Anak akan jadi korban emosi orangtuanya, persis seperti kita dulu 😣

    Lalu bagaimana cara memutuskan mata rantai luka dan trauma masa kecil ini?
    Berikut cara self healing yang bisa dilakukan sendiri untuk menyembuhkan inner child yang bermasalah :

    1. PENERIMAAN

    Cara pertama untuk berdamai dengan inner child adalah dengan menerimanya. Menerima bahwa iya, kita di masa lalu pernah jadi 'korban', jadi anak yang dikasari, yang disakiti secara verbal ataupun fisik.

    Memang rasanya sungguh tidak enak. Rasa sedih, kecewa, marah, takut, kesepian, semua terasa menyesakkan dada. Tapi cobalah mengenali rasa itu lagi, terima bahwa kita memang pernah merasakannya. Menyangkalnya berarti sama dengan menyangkal keberadaan si inner child dalam diri kita.

    Bagaimana mungkin kita akan berusaha menyembuhkannya, bila kita tidak mau menerima keberadaannya? Selama ini mungkin kita tidak menyadari kehadiran inner child dalam diri kita. Sering dianggap tidak ada, ataupun merasa sudah sembuh sendiri karena kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu dan terlupakan.

    Tapi sebenarnya, rasa sesak itu masih ada. Hanya saja mengendap dalam hati terdalam. Dan sebenarnya luka tersebut masih terbuka. Maka saat ada kejadian yang sama terulang, luka itu naik ke permukaan. Rasanya sungguh pedih perih saat tertetesi emosi yang sama.

    Dan bila saat itu tiba, ketika kejadian yang sama terulang, ketika anak kita melakukan suatu kesalahan yang sama dengan kita dulu, maka rasanya emosi dalam diri langsung ingin meledak.

    2. KOMUNIKASIKAN KE DALAM

    Bila terjadi hal demikian, segeralah jauhi anak. Jangan bereaksi apapun padanya. Karena hanya penyesalan yang akan didapat. Masuk ke kamar, tutup pintu, pejamkan mata dan bicara ke dalam diri kita sendiri, lewat hati.
    Ingat-ingat, apakah ada memory yang sama, kejadian yang sama seperti ini, saat kita kecil dulu?

    Bayangkan inner child kita, panggil dia dan bicaralah dengannya. "Wahai diriku yang kecil, datanglah. Hadirlah, aku ingin menemuimu". Hati akan menuntun kita untuk menampilkan inner child sesuai masalahnya. Jika masalahnya adalah kesepian, inner child kita bisa berupa sosok anak yang sedang duduk memeluk lutut di pojokan yang gelap. Jika masalahnya adalah kekerasan dan kurungan, inner child kita bisa berupa sosok anak yang tengah terisak menangis ketakutan dalam kamar mandi yang terkunci. Jika masalahnya adalah kemarahan, inner child kita bisa berupa sosok anak kecil yang sedang memukuli tembok hingga tanggannya luka dan berdarah.

    Datangi perlahan, nyalakan lampunya. Belai lembut rambutnya. Katakan kau ingin menolongnya, menemaninya. Supaya dia gak sendirian. Katakan kau ingin mengobrol dengannya. Supaya dia gak kesepian. Awalnya mungkin dia akan diam saja. Tapi teruslah tersenyum padanya. Raih kepercayaannya. Bila dia mulai mau membuka mulut, sapalah perlahan.

    Kau : hai, apa yang lagi kamu rasakan?
    Inner child : dadaku sesak, jantungku berdebar, aku pusing.
    Kau : owh itu berarti kamu lagi marah. Marah sama siapa, kenapa?
    Inner child : sama mama. Aku habis dimarahi mama. Aku pasti dimarahin kalo minta main sama mama. Mama gak mau nemenin aku main. Jadi aku selalu sendirian.
    Kau : oowh gitu. Mama kemana?
    Inner child : Mama kadang kerja, kadang di rumah. Tapi kalau di rumahpun aku gak ditemenin. Selalu disuruh main sendiri. Mama di rumah masak terus, nyapu terus, nyuci terus..
    Kau : aduh, rasanya gak enak banget ya dimarahin dan selalu sendiri. Tapi sekarang ada aku yang nemenin kamu. Udah gak kesepian lagi kan.
    Inner child : iya, aku senang ada yang menemani..
    ♧♧♧

    Dengan berbicara pada inner child yang bermasalah, kita memberikan kesempatan padanya untuk bercerita. Dengan menanggapinya, kita membantu dia melepaskan emosi negatif yang selama ini mengurungnya. Setelah dia merasa lega, kita pun akan merasakan sebuah kelegaan. Satu kerikil dalam hati telah mampu disingkirkan.

    Terry Pratchett, seorang penulis novel fantasi terlaris pernah mengatakan :
    "Hello inner child, I'm the inner babysitter!"
    Rasanya tepat sekali kalau diri sendiri yang paling pas untuk menjadi pengasuh bagi inner child kita. Karena diri sendiri yang pernah merasakan emosi-emosi si inner child. Maka jadilah pengasuh yang memberikan perhatian, kasih sayang dan pelukan yang dulu tak pernah kita dapat dari orangtua..

    3. MEMAAFKAN

    Cara berikutnya adalah memaafkan perilaku kedua orangtua kita dulu yang kasar atau berlaku tidak baik saat kita kecil. Selain orang tua, maafkan pula nenek kakek om tante dan saudara kandung yang tinggal serumah. Karena mereka sangat mungkin berkontribusi menorehkan luka di batin kita. Memaafkan mereka sebetulnya bukan hanya demi kebaikan mereka. Tapi lebih kepada demi kebaikan diri kita sendiri.

    Amarah, apalagi dendam yang kita simpan dalam hati, bagaikan bara api yang hanya akan membakar diri sendiri. Maafkanlah kesalahan mereka. Mereka berlaku demikian bukan karena tidak sayang. Tapi karena ketidaktauan mereka tentang ilmu parenting, karena punya terlalu banyak anak tanpa bisa berbagi waktu dan perhatian yang adil, ataupun karena tekanan ekonomi.

    Beruntunglah kita yang kini hidup di jaman serba internet, dimana berbagai ilmu mudah diakses. Termasuk cara mengasuh anak. Lain halnya dengan orangtua kita. Dan besar kemungkinan, cara didik orangtua kita adalah warisan dari kakek nenek kita.

    Maka ucapkanlah pada diri sendiri berulang-ulang:
    "Ayah ibu, aku sudah memaafkanmu. Aku percaya kalian sungguh mencintaiku. Akan slalu ku ingat betapa besar jasa kalian merawat dan membesarkanku. Kesalahanmu dalam mengasuhku hanya karena ketidaktauanmu, bukan karena tidak sayang. Aku telah memaafkanmu".


    Masa lalu tak pernah bisa kita ubah. Tapi kita selalu bisa merubah sikap dalam menghadapinya. Maafkan ketidaksempurnaan masa lalu. Toh kita sudah diberi makan, diberi tempat tinggal dan disekolahkan oleh orangtua. Tanpa mereka, kita tak akan tumbuh besar seperti saat ini.

    4. MELEPASKAN

    Setelah memaafkan, rasakanlah beban berat itu akan menguap. Hati lebih ringan, pikiran lebih tenang. Lalu lepaskan sisanya. Lepaskan kenangan masa lalu yang menyakitkan itu. Supaya tak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang akan membuat kita berulang melakukan kesalahan yang sama.
    Tiap bayangan itu datang, alihkan dengan melakukan hal yang kita suka. Supaya suasana hati kita jadi senang lagi. Kemudian fokuslah ke masa sekarang dan masa depan.


    Lakukan rangkaian self healing ini secara rutin. Ulangi untuk memanggil inner child Anda. Lakukan di saat tenang, tidak ada orang. Bisa di malam hari saat semua tertidur. Bayangkan sosok anak kecil dalam diri anda. Bicaralah dengannya, tanyakan perasaannya. Ingat kembali memori yang menyesakkan hati. Urai satu persatu masalah yang belum terselesaikan. Ungkapkan satu persatu emosi yang masih tertahankan.

    Lakukan berulang hingga seluruh bayangan inner child yang tidak bahagia itu menghilang. Digantikan dengan inner child yang tersenyum, ceria, bersemangat dan bahagia.

    Martha Beck, seorang penulis lulusan Harvard University pernah mengatakan :
    "Caring for your inner child has a powerful and surprisingly quick result : Do It and the child heals"
    "Dengan merawat inner childmu, akan memberikan hasil yang luar biasa dan mengejutkan dalam waktu relatif singkat. Lakukan itu dan si anak akan sembuh."

    Maka rangkullah inner child kita, sembuhkan, dan kita akan melihat hasil yang menakjubkan. Diri ini akan lebih bisa memaklumi tingkah anak, akan tidak mudah marah dan hati terasa lebih damai.

    Namun bila Anda tak bisa menghadirkan inner child dan punya masa kecil yang sangat kelam, saya sangat menyarankan agar Anda berkonsultasi dengan psikolog, agar dibantu memanggil inner child yang bermasalah dan diharapkan dapat menyelesaikannya dengan baik, agar tidak mengganggu kehidupan Anda saat ini yang telah menjadi seorang ibu. Agar Anda tidak mewariskan kesalahan yang sama dalam mengasuh anak, yang akan terus menurun ke cucu Anda kelak.


    Sudah cukuplah anak kita merasakan juga sakitnya cubitan. Jangan ulangi lagi pukulan. Jangan biarkan dia merasa sendirian, tak didengar pendapatnya, diabaikan dan hidup dalam ketakutan atas bentakan dan makian.

    Ayo putuskan mata rantai inner child ini. Terima. Komunikasi ke dalam. Maafkan. Lepaskan. Maka masa lalu yang buruk itu akan menjadi pil pahit yang bisa menjadikan kita pribadi yang lebih kuat.

    Menjadi ibu yang tahu cara merawat anak dengan baik, tidak melakukan kesalahan yang sama. Yang lembut namun bisa tegas saat diperlukan, tanpa harus melukai perasaan maupun fisik anak. Kita bisa berdiri tegak sebagai ibu yang bahagia. Menjadi ibu yang sepenuhnya dicinta oleh anak-anak yang tak dibuat merana. Demi masa depan mereka yang istimewa.

    Selamat berjuang memutuskan mata rantai inner child ini bunda..
    Mari ciptakan memori masa kecil yang indah bagi buah hati kita

    Dan percayalah,
    Menjadi ibu itu jauh lebih menyenangkan
    Saat kita tak lagi dibayangi masa kecil yang menyedihkan..

    Untuk seluruh Ibu luar biasa di negri ini..

    Cara Menguatkan Hafalan Anak Tanpa Melemahkan Kecerdasan

    Pendidikan Anak Usia Dini: Cara Menguatkan Hafalan Anak Tanpa Melemahkan Kecerdasan
    Cara Menguatkan Hafalan Anak

    Setiap anak yang lahir ke dunia ini membawa anugerah yang sangat luar biasa.  Dimanapun anak itu lahir, di rumah sakit mewah, di dukun bayi, di Paris atau di Ciamis, mereka mempunyai kecerdasan yang sama.  Cara orangtua mereka membesarkanlah yang akan membedakan seperti apa anak-anak itu kelak.

    Banyak sekali orang-orang besar yang lahir dari keluarga sederhana bahkan dari keluarga miskin.  Salah satunya adalah Imam Syafi’I yang merupakan peletak dasar ilmu-ilmu fiqih.  Beliau dilahirkan dan dibesarkan oleh ibunya yang miskin.  Beliau yatim sejak masih kecil.  Meskipun miskin harta tapi ibunya kaya iman dan kaya ilmu.  Ibunyalah yang selalu memberi inspirasi, semangat dan menunjukkan arah hidup.  Syafi’I kecil selalu diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an langsung dari lisan ibunya.  Tidak heran apabila pada usia 7 tahun beliau sudah hafal Al-Qur’an, 10 tahun sudah mempelajari ‘ulumul Qur’an dan pada usia 16 tahu telah memliki kelayakan untuk memberikan fatwa.  Orang-orang yang jauh lebih tua dari beliau banyak yang dating untuk meminta nasihat.

    Bandingkan dengan diri kita, di usia kita sekarang ini, masih sangat kurang pemahaman agama kita.  Apakah ada yang salah? Pasti ada yang tidak tepat dengan pendidikan kita.  Guru yang baik menerangkan, sehingga yang belum paham menjadi paham dan yang sudah paham menjadi lebih matang.  Guru yang lebih baik selalu memberikan contoh.  Guru yang terbaik akan memberikan inspirasi, menggugah semangat murid-muridnya untuk melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

    Pertanyaan selanjutnya untuk kita adalah: Guru seperti apakah kita bagi anak-anak kita?  Apakah kita termasuk guru yang baik, yang lebih baik atau yang terbaik?  Atau jangan-jangan bukan ketiga-tiganya?  Jangan-jangan kita hanya mengenal “kata seru” dan “kalimat perintah” untuk anak-anak kita?  Jenis kata dan kalimat yang lain tidak kita kuasai.

    Hari ini betapa banyak beban hafalan yang harus dihafal anak-anak kita, sementara kita belum menjadi guru yang baik, lebih baik apalagi yang terbaik.  Kalau tidak bijak dalam melatih hafalan  justru akan mematikan kemampuan akal untuk berpikir.

    Mengajarkan anak menghafal banyak hal adalah sesuatu yang baik.  Tetapi harus kita perhatikan baik-baik cara kita merangsang anak-anak kita untuk menghafal.  Menghafal harusnya diawali dari pemahaman dan kecintaan terhadap ilmu yang dia pelajari.  Dari dua hal itu akan muncul semangat yang luar biasa untuk menghafal.  Jadi bukan semata-mata mengejar target yang kita (orang tua dan guru) bebankan kepada mereka.

    Imam Ghozali dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, berkata: “Hendaklah anak kecil diberi kesempatan bermain.  Melarangnya bermain dan menyibukkannya belajar terus-menerus akan mematikan hatinya, mengurangi kecerdasannya dan membuatnya bosan dengan hidup, sehingga dia akan berusaha membebaskan diri dari keadaan sumpek ini.”



    Berbagai penelitian akhir-akhir ini menunjukkan betapa tepatnya nasihat Imam Ghazali tersebut.  Ternyata semangat yang membara untuk belajar, tujuan atau cita-cita yang kuat dan proses belajar yang menyenangkan jauh lebih berharga dibanding jumlah materi pelajaran yang mereka pelajari.  Anak-anak yang bersemangat, menghafal seribu kalimatpun tak masalah, tetapi anak-anak yang terbebani/tertekan oleh tuntutan orang tua atau gurunya jangan seribu kalimat, satu kalimat saja terasa berat baginya untuk menghafal.

    Kesimpulannya adalah bahwa yang paling penting kita lakukan adalah menggugah atau menumbuhkan semangat dan merangsang gairah mereka untuk belajar.  Kalau itu berhasil kita lakukan sampai kapanpun anak-anak kita tidak akan pernah berhenti belajar.

    Cara Agar Anak Betah Dirumah


    Banyak anak yang lebih senang bermain di rumah temannya daripada dirumah sendiri.  Kadang-kadang anak sangat susah diajak pulang atau dijemput.  Kadang orang tuanya sampai marah dan akhirnya anak menangis. Betul??

    Sebagai orang tua, tentunya kita ingin memberikan yang terbaik kepada anak kita.  Kita juga akan sangat sedih jika anak tidak betah di rumah.  Berikut ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak betah dirumah:
    1. Bangunlah keharmonisan keluarga.  Anak akan merasa nyaman berada dalam keluarga yang harmonis, saling perhatian dan saling menghargai.
    2. Biasakan berdialog dengan anak.  Jangan memaksakan sesuatu kepada anak (otoriter). Coba tanyakan kepada anak, apa yang dia butuhkan dan dia inginkan?  Apabila Anda belum bisa memenuhinya katakan dengan jujur dan minta maaf.  Apabila dia menginginka sesuatu yang akan berpengaruh negatif, beri penjelasan sesuai dengan usianya.  Misal dia mengatakan dia akan betah di rumah kalau dibelikan PS.  Berikan penjelasan baik-buruknya bagi anak.
    3. Bangun kedekatan dengan anak. Jadilah pendengar yang baik ketika anak sedang ingin bercerita.  Jadilah teman ketika anak kesepian.  Jadilah orang pertama yang memberikan nasihat ketika dia membutuhkannya.
    4. Buatlah permainan kreatif bersama anak.  Kadang anak lebih betah di rumah teman karena mainannya lebih banyak.  Jangan terpancing untuk membelikannya mainan yang lebih banyak.  Ajaklah anak membuat permainan yang kreatif seperti tebak kata, pantomim, dan lain-lain.
    5. Minta anak mengajak teman-temannya ke rumah.  Anak juga perlu bersosialisasi.  Kadang mintalah anak Anda untuk mengajak teman-temannya ke rumah.  Disamping anak jadi lebih betah di rumah, kita juga lebih bisa memantau.
    6. Buatkan kamar pribadi.  Dengan memberikan kamar pribadi kepada anak maka anak akan lebih nyaman untuk menumpahkan kreasi-kreasinya tanpa merasa terganggu.  Berikan kebebasan untuk memilih warna cat kesukaannya.  Biarkan dia menata kamarnya sendiri sehingga dia merasa betah.
    7. Fasilitasi kegiatan positif yang diminati anak.
    8. Doakan.
    Semoga bermanfaat. 
     

    Cara Mengatasi Anak Saat Merengek

     
    Hmm... dua hari nggak nulis di blog ini rasanya kangen juga.   Sahabat Rumahku Surgaku, tulisan ini berawal dari pengalaman saya sendiri yang kesulitan kalau mengahadapi anak saya ketika merengek minta sesuatu.  Respon kita yang belum paham ilmunya biasanya ada dua.  Pertama, emosi dan memarahi anak atau yang kedua menuruti permintaan atau kemauan anak supaya dia lekas diam.  Betul???  Hmmm... Pengalaman pribadi.

    Penyebab Anak Merengek dan Solusinya

    Sebelumnya kita perlu mengetahui dulu mengapa anak-anak kita merengek. Ada beberapa penyebab anak merengek dan bagaimana cara mengatasinya:
    1. Minta Diperhatikan.  Biasanya dialami anak yang kurang perhatian orangtuanya. Bisa karena kesibukaannya atau karena belum tahu bagaimana memperlakukan anak dengan penuh perhatian.  Sering kita sebagai orang tua kurang menanggapi apa yang dikatakan anak, karena kita menganggap itu tidak penting,  Padahal bagi merka itu sangat penting.  Coba bayangkan kalu kita yang menjadi mereka, dongkol kan?  Karena mereka belum punya cara yang lain akhirnya mereka merengek.  Solusi:  Ajak anak bicara, rendahkan tubuh kita agar sejajar dengannya.  Dengarkan apa yang ia sampaikan dan respon dengan lembut dan beri penjelasan dengan baik.  Belajarlah untuk segera merespon ketika anak minta sesuatu, walaupu hanya minta perhatian.  Anak yang merasa kebutuhannya untuk diperhatikan terpenuhi, tidak akan merengek lagi.
    2. Telalu sering dilarang.  Anak yang sering dilarang akan cenderung sering merengek.  Hal ini karena mereka merasa frustasi menghadapi orang tuanya karena sedikit-sedikit melarang.  Padahal mereka perlu mencoba banyak hal untuk berkembang dan mereka merasa enjoy dengan apa yang mereka lakukan.  Sebagai "strategi" mereka biasanya merengek untuk meluluhkan hati orang tuanya.  Solusi :  Berikan kebebasan anak untuk bereksplorasi dengan melakukan banyak hal sehingga dia akan merasa mempunyai wewenang atas dirinya sendiri dan akan membuatnya menjadi lebih percaya diri.  Anak yang merasa kebutuhannya untuk berekspresi terpenuhi akan merasa nyaman dan tidak akan merengek lagi.
    3. Mereka memang benar-benar menginginkan sesuatu.  Kadang anak merengek karena memang benar-benar menginginkan sesuatu (bisa dari keinginannya sendiri atau karena pengaruh teman atau lingkungan) dan merasa bahwa kita tidak akan memenuhinya.   Solusi  :  Cobalah ajak dia untuk berdialog tentang apa yang dia inginkan.  Tanyakan kepadanya apa pengaruh posifnya kalau dia mendapatkannya.  Tanyakan juga apa pengaruh negatifnya.  Kalau sesuatu yang diinginkannya itu memang berdampak negatif, tekankan hal itu.  Misalkan anak minta dimasakin mie instan.  Jelaskan apa pengaruh negatifnya pada kesehatan, dengan contoh-contoh yang mudah dipahami anak.
    Semoga manfaat.
    http://jendelamalika.blogspot.com/2014/02/cara-agar-sabar-dalam-mendidik-anak.html

    Cara Agar Sabar dalam Mendidik Anak



    Beberapa waktu yang lalu ada pengalaman yang sangat tidak enak yang saya alami.  Saat itu saya mengajak anak saya yang berusia 5 tahun untuk sholat maghrib.  Di luar dugaan saya, ternyata dia menolak dengan kalimat-kalimat bantahan.  Tanpa saya sadari emosi saya terpancing.  Terjadilah peristiwa yang saya sangat tidak harapkan (gak sampai memukul sih..).

    Saya sangat menyesali kejadian tersebut.  Tapi sisi positifnya adalah saya menjadi termotivasi untuk meningkatkan ilmu agar bisa sabar dan bisa mengatasi  apabila hal itu terjadi lagi.  Beberapa hari saya mencari-cari solusi untuk mengatasi agar peristiwa seperti itu tidak terulang lagi, saya mencari di buku-buku yang saya miliki dan tanya-tanya "eyang google".

    Niat Baik Saja Tidak Cukup

    Setelah saya mencari kesana-kemari, sampailah saya pada kesimpulan bahwa dalam mendidik anak "niat baik saja tidaklah cukup".  Ingat peristiwa di awal tadi? jelas niat saya adlah baik yaitu mengajarkan anak saya agar terbiasa mendirikan sholat.  Tapi apa yang terjadi adalah emosi yang muncul dan akhirnya anak malah menangis dan dengan terpaksa mengerjakan sholat.
    http://jendelamalika.blogspot.com/2014/01/mendidik-anak-sholat-lima-waktu.html

    Kalaupun anak saya akhirnya sholat juga itu jelas dengan tidak rela/tidak ikhlas.  Dia hanya takut karena ada saya.  Seandainya saya tidak ada kemungkinan dia tidak sholat.  Kalau kita paksa anak untuk melakukan atau meraih sesuatu yang kita harapkan dia lakukan, menurut Ustadz Fauzil Adhim kita akan menjadi ibarat anjing penjaga bagi dia.  Anak-anak melakukan sholat/belajar bukan karena kesadaran atau karena mengharap ridhlo Allah, tapi karena terpaksa.

    Semangati!!  Jangan Bebani

    Kalau semangat yang kita tanamkan kepadanya, ia akan senantiasa memiliki energi dan kesegaran untuk melakukan segalanya untuk mengejar cita-citanya.  Semangat bisa kita tanamkan dengan penjelasan yang benar-benar jelas (sesuai umurnya) kenapa dia harus melakukan suatu pekerjaan.  Gambarkan dengan jelas apa keuntungannya, apa yang akan dia dapat jika dia melakukannya.  Gambarkan juga dengan sejelas-jelasnya apa akibat atau kerugian-kerugian yang akan dia alami.
    http://jendelamalika.blogspot.com/2014/02/cara-memberikan-pendidikan-terbaik.html

    Kembali ke topik awal, bagaimana sih agar tidak emosi dan bisa sabar dalam mendidik anak.  Ada beberapa hal yang penting untuk kita para orang tua dalam melatih diri dalam upayameningkatkan pengendalian emosi, diantaranya:
    1. Sadari bahwa anak merupaka amanah dari Allah yang harus kita sayangi dan kita didik sesuai dengan keinginanNYA.
    2. Bila kita belum siap untuk menghadapi perilaku anak yang sedang marah-marah, berteriak-teriak atau menangis atau perilaku tantrum lainnya, lebih baik kita menyingkir dulu. Tenangkan diri kita dahulu.  Segera pindah dari hadapan anak dan lakukan aktivitas yang bisa menenangkan hati dan membuat kita lebih siap menghadapi perilakunya.  Bisa dengan ambil wudhlu, sholat sunnah 2 raka'at, berdzkir atau yang lainnya yang menenangkan hati kita.
    3. Ketika anak sedang marah atau tantrum, jangan nasehati panjang-lebar. Tidak akan didengarkan.  Kita cukup memasang wajah datar dan abaikan segala perilakunya.  Nanti setelah dia tenang baru kita rengkuh dan peluk dia erat-erat dan katakan bahwa kita betul-betul menyayanginya.  Katakan juga perasaan kita jika mereka berperilaku seperti itu.  Berikan apresiasi jika dia menunjukkan perubahan perilaku menjadi lebih baik.
    4. Slalu tambah ilmu-ilmu tips/cara mendidik anak atau cara menghadapi anak dalam berbagi situasi.  Dengan ilmu segalanya menjadi lebih mudah.  Kalau kurang ilmu biasanya emosi yang ditonjolkan.
    5. Perbaiki ibadah kita.  Dengan memperbaiki ibadah kita maka kontrol emosi kita akan lebih baik.  Perkataan kita juga akan lebih didengarkan anak pabila kita istigomah mendirikan sholat malam.
    6. Selalu do'akan anak-anak kita dan jangan lupa berdo'a juga agar kita diberikan kesabaran dalam mendidik anak-anak kita.

    Cara Memberikan Pendidikan Terbaik Kepada Anak


    Pengorbanan seorang ibu yang mengandung selama sembilan bulan dengan beban berat sejak awal kehamilan, harus diimbangi dengan sebaik-baiknya.  Ini agar setiap anak bisa menjadi pembuka pintu surga yang tinggi bagi dirinya dan bagi orang tuanya. Setelah anak kita lahir, dia masih memerlukan tenaga, kasih sayang dan pengorbanan kita.  Tidur kita jadi kurang, kadang kesehatan juga terganggu, dan pengorbanan-pengorbanan yang lain. Semuanya tidak akan pernah cukup untuk menghargai karunia Allah yang bernama "Anak".

    Makanya Anak-anak kita harus kita antarkan menuju masa depan sebagai hamba yang banyak bersujud kepadaNya.  Apapun yang ada padanya, kepada Allah dia abdikan.

    Memberi nama adalah juga merupakan pendidikan anak yang paling awal.  Pastikan kita memberikan nama yang baik kepada anak kita, karena nama yang baik juga akan menjadi motivasi sendiri bagi anak.  Nama juga merupakan do'a.

    Tetapi nama yang baik saja tidaklah cukup untuk mengantar anak ke gerbang kesuksesan. Nama yang memuat cita-cita besar hanyalah permulaan.  Harus ada bekal yang kita berikan kepada anak kita agar kuat jiwanya, lembut hatinya, keras kemauannya, tangguh mentalnya dan bersemangat dalam hidupnya.  Kita harus asah pikirannya, sentuh perasaannya dan kita kuatkan jiwanya.

    Kecerdasan saja juga tidak akan cukup jika kita ingin mempersiapkan anak-anak kita mampu mengemban amanah pada zamannya.  Sekadar cerdas saja juga tidak cukup jika kita inginkan anak-anak yang mampu menggenggam dunia di tangannya dan memenuhi hatinya dengan Iman.  

    Oleh karena itu menjadi orangtua harus mempunyai bekal ilmu yang memadai.  Memasukkan mereka ke sekolah unggulan atau memberikan uang dan materi yang banyak juga tidaklah cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul.  Sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

    Uang memang bisa membeli kasur yang empuk, tetapi uang tidak bisa membeli tidur yang nyenyak.  Uang juga bisa membeli rumah yang lapang, tetapi tidak bisa membeli kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Dengan uang kita juga bisa membelikan mereka televisi yang besar untuk menghibur mereka, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberikan dukungan ketika mereka terjatuh.

    Betapa banyak anak yang rapuh jiwanya, mudah terpengaruh oleh lingkungan dan mudah goyah.  Padahal mereka tinggal di rumah yang sangat kokoh bangunannya.  Mereka mendapatkan apa saja dari orang tuanya, kecuali perhatian, kasih sayang dan ketulusan.

    Mungkin kita sudah merasa memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak kita dengan menyekolahkan mereka di sekolah-sekolah unggulan.  Padahal yang sebenarnya terjadi adalah anak-anak itu sedang dilemahkan jiwanya, karena tidak pernah menghadapi tantangan, dukungan, dorongan dan apresiasi yang seimbang.  Mereka menjadi seperti ayam potong yang mudah patah jika terkena angin sedikit saja.

    Banyak waktu, tenaga dan biaya yang sudah kita habiskan untuk membesarkan anak-anak kita.  Pastikan kita luruskan niat kita dan perbanyak ilmu kita untuk mngantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, sholih, mempunyai percaya diri yang tinggi dan kokoh imannya.  

    Setiap tahap perkembangan anak memerlukan perlakuan yang berbeda-beda pula.  Sebagai orang tua kita harus terus belajar agar bisa mengasuh dan mendidik mereka dengat tepat. Segalanya menjadi mudah kau kita tahu ilmunya.


    Mengajarkan Disiplin Kepada Anak

    Disiplin dan tanggung jawab adalah sikap yang harus dibangun sejak dini.  Oleh karena itu keluarga perlu mendidik dan membiasakan seluruh anggota keluarganya agar mempunyai kebiasaan ini.  Kita bisa memulainya dengan membuat aturan bersama mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga disertai pengaturan waktunya.  Langkah selanjutnya adalah saling mengingatkan secara konsisten pelaksanaan aturan tersebut.  Bisa juga dengan memberikan hadiah bagi yang melaksanakan dan hukuman bagi yang melanggar.

    Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah memberi contoh.  Kita harus menjadi orang pertama yang menaati dan melaksanakan aturan tersebut.  Dengan begitu anak-anak juga akan terdorong, terlatih dan akhirnya terbiasa menjalankannya.

    Untuk melatih komitmen anak biasakan dan latih mereka melakukan sesuatu dengan bersungguh-sungguh, terutama setelah balita.  Kita juga bisa membantu anak untuk menulis komitmen dan pencapaian yang ia inginkan, (misalkan ia ingin juara kelas, ingin rajin sholat 5 waktu, dll) lalu tempel di tempat yang mudah terbaca.  Dengan cara itu kita bisa senantiasa mengingatkannya bila dia melanggar komitmennya.  Berikan pula penghargaan jika dia berhasil menjalankan komitmen tersebut dalam jangka waktu tertentu.

    Tetapi perlu diingat bahwa semua pencapaian itu memerlukan proses.  Jika anak lupa ingatkan dengan baik, dan ajak untuk melakukan evaluasi serta mencari solusinya.  

    Semua program itu hanya bisa dilakukan oleh orangtua yang memiliki manajemen waktu yang baik.  Jika kita masih sering lalai dan bermalas-malasan maka mempunyai anak-anak yang disiplin, bertanggung jawab dan berkomitmen hanya akan menjadi khayalan belaka.

    Bila Anak Anda Pemalu



    Malu merupakan perasaan yang wajar.  Dalam beberapa hal perasaan malu justru sangat diperlukan.  Tetapi ketika kita melihat anak kita sulit membuka diri pada lingkungan yang baru, susah berteman dan menghindari pergaulan, maka kita perlu memberikan perhatian dan perlakuan yang tepat. 

    Sangat penting bagi kita para orang tua untuk segera menyadari kalau anak kita pemalu.  Jangan malah menyangkal kondisi ini dan malah mengatakan anak kita baik-baik saja.  Segera cari tahu penyebabnya dan yang lebih penting cari tahu dan lakukan solusinya.

    Meskipun ia tidak harus menjadi segera pemberani, Anda harus tetap mendorongnya untuk mengatasi rasa malunya dan membuatnya keluar dari ‘tempurung’-nya.  Berikut adalah beberapa penyebab dan solusi yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya:

    1. Jika anak sulit menghadapi situasi baru.  Anak akan sering mengalami situasi baru dan dia perlu belajar untuk cepat beradaptasi dengan situasi baru itu.  Karena pengalaman anak yang masih sedikit (dibanding orsng dewasa) maka anak kadang cenderung menghindar dari situasi baru ini.  Solusi: Dorong perubahan secara bertahap, jangan buru-buru anak segera berubah jadi pemberani.  Beri waktu kepada anak untuk belajar mengatasi rasa malunya sesuai kemauan dan kemampuannya.  anda tidak harus menargetkan kapan waktunya.  Beri pujian bila dia berhasil mengatasi rasa malunya.  Misalkan jika awalnya dia nggak mau berjabat tangan saat ketemu orang lain, maka ketika dia sudah mau berjabat tangan atau memberikan salam segera berikan pujian yang tulus.  Kalau sesekali masih muncul rasa malunya untuk memberi salam/berjabat tangan ketika ketemu orang lain itu wajar, jangan bereaksi negatif misal mengatakan "gimana sih kakak ni kok gak mau salaman lagi?".   Reaksi seperti itu dan apalagi disertai hukuman akan membuat anak semakin tertekan dan semakin malu. 
    2. Sering diancam, ditakut-takuti, deicela atau dikritik oleh orang tua atau pengasuhnya juga akan membuat anak jadi pemalu.  Anak akan selalu berprasangka bahwa dia akan mendapatkan reaksi yang negatif stiap bertemu orang lain.  Prasangka negatif inilah yang akan membuat anak menghindari pertemuan dengan orang lain.  Solusi: Hentikan kebiasaan mengancam, menakut-nakuti dan mencela untuk mendapatkan kepatuhan anak.  Gantikan dengan kata-kata atau kalimat yang positif, yang mengandung motivasi, semangat dan pujian yang akan membangkitkan harga diri Anak.  Ini akan sangat membantu anak mengatasi rasa malunya.  Daripada menyuruh dengan kalimat: "Ayo mandi, nanti kalau nggak mandi tidurnya diluar biar digit ular dan digendong setan" Lebih baik diganti denga kalimat: "Kakak mandi dulu yuk, mau pake ember apa pakai shower? Kalau udah mandi nanti pasti jadi wangi dan suegerrr.  Kakak juga jadi bersih dan sehat.  Anak Sholih pasti mau mandi.."
    3. Pengasuhan yang tidak konsisten.  Misalkan anak hari ini dihukum karena nggak mau sholat, tapi lain hari dibiarkan saja.  Anak akan menjadi bingung dan akhirnya jadi pemalu.  Solusi: Berlakulah kosisten dan terapkan disiplin yang baik, karena anak membutuhkan panduan yang jelas untuk mebangun perilakunya.  Panduan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan akan membuat anak percaya diri dan tahu resiko apa yang akan dihadapinya bila melakukan suatu perbuatan.
    4. Anak cenderung meniru orangtuanya.  Apabila orangtuanya pemalu maka anak akan cenderung menjadi pemalu juga.  Bukan karena genetis, tapi karena meniru.  Orang tua pemalu biasanya kurang bergaul dan tidak punya banyak teman sehingga anaknya akan kesulitan untuk belajar cara berteman dan cara berperilaku. Solusi: Atasi segera rasa malu Anda, tunjukkkan pada anak bagaimana cara bergaul, berperilaku dan berkomunikasi dengan orang lain.  Anda bisa mulai dengan menyapa orang yang berpapasan, memberi salam saat bertamu dan berpamitan, dll. Coba sesudah memperkenalkan dia pada seseorang, libatkan dalam percakapan. Setelah melalui ‘pemanasan’, umumnya rasa malunya sudah jauh berkurang.
    5. Bawaan Lahir.   Memang ada anak yang sudah tampak pemalu da usia 6 bulan, biasanya bayi yang pemalu akan tumbuh menjadi anak yang pemalu.  Solusi: Perkenalkan anak dengan lingkungannya sesering mungkin, misalkan sering ajak bertemu dengan sebanyak mungkin orang dan ajak untuk bekomunikasi dengan mereka, ajak ke pertemuan, ajak ke toko yang berbeda-beda dan ajak ngobrol dengan pelayannya, dll.
    6. Anak terlalu dilindungi  sehingga tidak punya kesempatan untuk mandiri dan kurang rasa percaya dirinya untuk membuat keputusan untuk dirinya sendir.  Anak yang terlalu dilindungi akan cenderung merasa selalu tidak aman sehingga menjadi pemalu.  Solusi: Mulai ajari anak untuk mandiri dan beri tanggung jawab sesuai usianya, misalkan beri kepercayaan anak untuk sisiran sendiri, gosok gigi sendiri, dll.  Beri kepercayaan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, misal mencari buku ceritanya yang terselip, dll.  Biarkan anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya, misal memilih mukenanya waktu diajak beli, memilih sepatu sendiri, dll.
    7. Orang tua tidak/kurang terlibat dalam mengasuh anak.  Ada beberapa orangtua yang sengaja tidak mau terlalu terlibat dalam mengasuh anak dengan alasan agar anak tidak terlalu tergantung kepadanya (manja).  Atau orangtua yang tidak punya waktu karena pekerjaan atau bisnisnya yang sangat menyita waktu.  Ketidakhadiran orangtua dalam hidupnya akan menyebabkan anak merasa bahwa dirinya kurang berharga bagi orang lain.  Anak akan merasa orang lain tidak berminat padanya.  Ketika ada orang yang memperhatikannya dia merasa tidak nyaman dan tidak aman.  Kadang juga anak menjadi panik ketika menjadi pusat perhatian.  Solusi:  berikan perhatian dan cinta yang cukup kepadanya.  Tunjukkan kepadanya bahwa Anda benar-benar peduli akan dia dan masa depannya dan biarkan dia tahu bahwa anda menyayanginya.  Anak yang tahu bahwa dirinya dicintai akan dengan mudah mengembangkan rasa percaya dirinya dan menghalau rasa/sifat pemalunya.
    Selamat mencoba, semoga bermanfaat dan menjadikan anak-anak kiata menjadi anak-anak yang percaya diri dan mandiri.

    Bila Anak Suka Membantah


    Mungkin Anda pernah mengalami ini: ketika Anda meminta anak Anda membereskan mainannya atau mengajak mandi, selalu saja ada alasan untuk menolak permintaan Anda.  Memang kadang anak tidak selalu bersikap manis dan penurut.  Bahkan di saat-saat tertentu anak justru sering membantah. Jangan kaget menghadapinya. Dengan penanganan yang tepat, anak yang suka membantah bisa kok dijinakkan.
     Apa sih yang perlu kita  lakukan untuk mengatasinya hal tersebut?  Tenang deh... semua ada solusinya kok, coba langkah-langkah berikut, IsyaAllah akan membantu:
    1. Hargailah dan dengarkan dia, coba deh.. kita dengarkan dulu apa alasannya kenapa dia gak mau melakukan permintaan kita.   Dengan sikap yang penuh kasih sayang, adil dan menghargai anak, maka anak akan kooperatif.  Dia juga akan belajar untuk menghargai orang lain juga.  Bila anak merasa kebutuhannya untuk dimengerti terpenuhi maka ia akan merasakan begitu besar perhatian kita kepadanya.  Ini akan memperkecil penentangannya.
    2. Terangkan dengan jelas dan dengan kalimat yang positif kenapa dia harus melakukan permintaan Anda.  Contoh: daripada kita katakan "Ayo Kak, mainannya diberesin, Bunda tu nggak suka kalau mainan Kakak berantakan", coba deh kalimatnya sedikit diubah menjadi "Ayo Kak, mainannya diberesin lagi yuk, biar rapi dan nggak ada yang hilang, jadi besok kalau Kakak mau main lagi nggak susah nyarinya".  Anak kita akan senang mendapatkan perlakuan seperti ini.
    3. Jalinlah hubungan yang baik dengan anak.  Binalah hubungan yang hangat dan akrab dengan buah hati Anda.  Perhatikan kebutuhannya dan pastikan Anda memenuhinya.  Berkomunikasilah dengan hangat kepadanya dengan menyediakan waktu yang berkualitas.  Makin menyenangkan Anda dimata anak Anda maka ia akan lebih terbuka kepada Anda.
    4. Hindari hukuman fisik dan kata-kata yang menyakitkan saat mengingatkan anak kita.  Jika anak merasa direndahkan maka dia akan semakin "menjauh".  Jalinan komunikasi yang lancar, penerimaan dan penghargaan dari kita akan membuat anak merasa diterima, membangun percaya dirinya, dan mau bekerjasama.
    Pastikan Anda melakukan usaha-usaha diatas dengan lembut, sabar namun tegas dan konsisten.  Pastikan juga Anda menyertainya dengan do'a agar mendapatkan hasil yang efektif.

    Agar Anak Tidak Rewel Saat Akan Ditinggal Pergi


    Mungkin Anda Ayah, Bunda, Abi, Ummi pernah mengalami tidak bisa menghadiri suatu acara karena buah hati anda menangis/rewel saat mau ditinggal.  Atau bahkan untuk pergi bekerja saja perlu perjuangan agar anak kita tidak menangis dan merelakan anda untuk pergi.  Kadang kita mengakalinya dengan pergi secara diam-diam tanpa berpamitan pada anak kita.  he..he..he.. yang ini saya juga pernah melakukan lho..  Memang kalau kurang ilmu biasanya kita nyari solusi instan.

    Ada beberapa sebab anak kita rewel ketika mau ditinggal perdi:
    1. Terlalu dekat dengan orang tua.  Kedekatan dengan anak sangat diperlukan agar anak merasa aman, tetapi kalau terlalu dekat misalnya sikap kita yang terlalu melindungi dan menemani dia keman-mana akan menyebabkan anak susah ditinggal.
    2. Terlalu dimanja.  Biasanya kita memanjakan anak agar anak diam (tidak menangis/merengek) atau untuk kompensasi karena kita telah meninggalkannya.  Tapi hal ini ternyata bisa menyebabkan anak menjadi tidak mandiri.
    3. Trauma karena ditinggal pergi secara diam-diam.  Orang tua sering pergi secara diam-diam (nglimpekke - bahasa jawa) agar anak tidak rewel ketika kita mau pergi.  Padahal cara ini bisa menimbulkan trauma pada anak.  Anak tiba-tiba menemukan orangtuanya lenyap, maka besok dia akan berusaha semaksimal dia untuk menahan orangtuanya agar tidak pergi.
    Terus bagaimana donk solusinya???  Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk melatih anak kita agar rela kita tinggal pergi:
    1. Kenalkan dan dekatkan anak-anak kita dengan orang disekitarnya, seperti kakek, nenek, pembantu, kakak, tetangga dll sehingga ketika dia kita tinggal pergi tidak merasa sendirian dan tetap merasa aman dan nyaman.
    2. Latih dia dengan perpisahan-perpisahan kecil, misal kita tinggal belanja ke warung sebelah, dll.  Hal ini akan membuat anak terbiasa dan lama kelamaan merasa 'owh ternyata ga papa tuh ditinggal'
    3. Jangan pergi tanpa berpamitan.  Sering kita berpikir pergi dengan diam-diam sepertinya cara  paling gampang, tapi jika anak kita mencari-cari dan tiba-tiba Anda tidak ada, dia mulai berpikir Anda dapat menghilang kapan saja.  Ini hanya akan meningkatkan rasa ketergantungan anak terhadap Anda.  Datanglah dengan ungkapan salam perpisahan lucu yang biasa dilakukan. Bisa berupa ciuman di kening, nyanyian atau tarian.
    4. Cobalah untuk mengkomunikasikan pada anak kenapa setiap hari anda harus pergi (bekerja/bisnis/).  Hal ini akan membuat anak lama-kelamaan akan paham dan mengerti kenapa orang tuanya pergi. Mereka juga akan lebih siap secara mental untuk ditinggal pergi.
    5.  Yang paling utama adalah do'akan anak-anak kita agar menjadik anak-anak yang sholih dan mandiri.
    Semoga manfaat...
    Wallahua'lam bisshowab

    Cara Mendidik Anak Sholat Lima Waktu


    Ayah, Bunda, Abi dan Ummi yang mendambakan anak yang sholih.... 
    Anak adalah salah satu amanah yang Allah karuniakan kepada kita. Anak adalah cahaya mata, yang juga bisa menjadi penyejuk hati kala kita gundah. Semua orang tua mendambakan mempunyai anak yang sholih, cerdas dan sehat. Semua anak adalah cerdas di bidangnya masing-masing. Kewajiban kita adalah memfasilitasi kecerdasan tersebut agar kelak bisa menjadi bekal hidupnya yang mandiri.

    Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tetapi kesholihan yang kita dambakan pada anak-anak kita bukanlah hal yang terbentuk tiba-tiba atau instan. Kita harus mengupayakannya sejak dini, sehingga ketika anak-anak beranjak remaja dan dewasa, karakter-karakter positif yang kita harapkan sudah terinstall dengan baik dalam diri anak-anak kita.

    Memperkenalkan ibadah-ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur'an, puasa dan lain-lainnya kepada anak haruslah dengan cara yang positif dan menyenangkan. Kitika anak masih berusia BALITA maka yang lebih penting adalah keteladanan. Contohnya, apabila kita membaca Al-Qur'an, bacalah dekat-dekat anak kita sehingga mereka terbiasa mendengar ayat-ayat Al-Qur'an. Jika kita sedang puasa ramadhan terangkan bagaimana puasa itu dan manfaat apa yang akan kita dapatkan dari puasa baik di dunia dan akhirat kelak. Jika kita mau bershodaqoh atau infaq ajaklah anak-anak kita dan coba sekali-kali biarkan mereka yang memberikanya. Dengan begitu anak akan termotivasi dan mulai terbiasa untuk melakukannya.

    Masa Balita adalah periode emas pertumbuhan anak kita. Apabila pada periode ini kita setiap saat, setiap hari mengkondisikan anak-anak kita untuk melihat, mendengar dan melakukan ibadah-ibadah itu maka InsyaAllah langkah selanjutnya akan lebih mudah. Sangat penting juga diperhatikan oleh kita bahwa anak balita tidak boleh dipaksa untuk melakukan sholat atau ibadah-ibadah yang lain, karena dikhawatirkan hal itu akan menimbulkan persepsi-persepsi negatif anak tentang sholat dan ibadah-ibadah yang lain tersebut. Dia akan beranggapan bahwa sholat itu nggak enak, nggak asyik, dipaksa-paksa dan sebagainya.

    Ayah, Abi, Ummi dan Bunda juga bisa melakukan hal-hal berikut ini untuk memotivasi anak kita yang masih BALITA melakukan sholat:
    1. Banyak-banyaklah bercerita dan berdialog dengannya tentang kebaikan-kebaikan dan nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita. Ceritakanlah betapa Allah sangat mencintai kita dengan memberikan kita begitu banyak hal yang kita butuhkan di dunia ini.
    2. Ceritakanlah juga tentang syurga yang akan dikaruniakan Allah kepada orang-orang yang gemar beramal sholih. Ceritakan bagaimana nikmatnya di syurga itu sehingga anak kita sejak dini sudah termotivasi untuk bisa masuk syurga. Ceritakanlah juga tentang betapa sakit dan pedihnya siksa di neraka sebagai balasan orang-orang yang tidak sholih.
    3. Manfaatkan momen-momen tertentu untuk mengingatkan anak kita. Misalnya ketika ulang tahun(bukan untuk dirayakan lho...) atau naik dari kelas KB ke TK katakan: "Subhanallah Kakak sekarang sudah besar sudah 4 tahun, berarti sholatnya juga harus tambah rajin yah? Abi, Ummi dan Allah pastinya makin sayang sama Kakak".
    4. Berikan pujian secara langsung ketika anak ikut sholat dengan kita.

    Ketika anak berusia 5-7 tahun daya pikir anak sudah semakin berkembang. Kita bisa mulai mengajak dan mengajarkan tata cara sholat atau ibadah-ibadah yang lain. Kita bisa membelikannya mukena, peci, gamis atau sajadah dan biarkan dia yang memilih sendiri yang mereka sukai. Pada usia ini, hal-hal berikut bisa kita lakukan untuk memotivasi anak membiasakan sholat:
    1. Membuat Tabel Bintang Prestasi Sholat. Setiap kali anak sholat maka dia berhak mendapatkan 1 bintang yang bisa dia tempel di tabel itu. Nanti setelah satu pekan, bintang-bintang itu bisa dia tukar dengan hadiah yang sudah kita sepakati dengannya. Misalnya kalau punya 20 bintang dapat hadiah pensil warna, kalau 30 atau lebih dapat buku cerita baru, dll. Yang perlu diingat janganlah kita menetapkan target yang terlalu tinggi misalkan harus full 5 waktu, harus benar bacaan dan jumlah roka'atnya. Untuk anak usia 5 tahun sholat tepat waktu, meski bacaan, gerakan dan roka'atnya belum tepat sudah sangat bagus. Pada usia ini cukup ajarkan membaca Al-Fatihah dan gerakan-gerakan sholat dengan benar. Atau bisa juga dekenalkan nama-nama sholat dan jumlah roka'atnya dengan lagu-lagu misalnya. Setelah usia 6 tahun bisa mulai kita ajarkan doa ruku', sujud, iftitah, tashahud dan surat-surat pendek. Perlu diingat untuk Ayah dan Bunda bahwa pada tahap ini (5-7 tahun) anak masih BELAJAR, dan secara syar'i pun mereka juga belum memikul kewajiban untuk sholat tepat waktu dengan benar. 
    2. Mengajak anak berdialog tentang pentingnya sholat, keutamaan dan hikmah orang yang sholat sehingga anak termotivasi untuk terus menjaga sholatnya. Gunakan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami anak kita.
    3. Berikan ucapan terimakasih dan pujian setiap kali anak kita selesai sholat.
    4. Ajaklah anak sholat di masjid, tapi sebelumnya terangkan adab-adabnya misalnya tidak boleh ramai atau bercanda dan lain-lain.
    Ketika Anak kita berusia 7 - 10 tahun kita harus lebih tegas dalam mengajak dan mengingatkan anak kita untuk solat 5 waktu. Jangan pernah bosan ataupun terpancing marah. Bagaimanapun pada usia ini anak belum baligh sehingga sebenarnya dia belum wajib sholat. Apa yang kita upayakan adalah untuk membiasakan anak untuk melaksnakan sholat 5 waktu. Sering-seringlah mengajak anak berdialog tentang harapan-harapan kita terhadap mereka mengenai pelaksanaan sholat dan ibadah-ibadah yang lain. Contoh: "Bunda akan sangat bahagia kalau Adek rajin sholat 5 waktu. Anak yang sholih kelak di akhirat bisa menjadi penolong Bunda dan Ayah". Selalu berikan pujian jika anak sholat 5 waktu apalagi kalau tepat waktu dan berjamaah. Tabel Bintang Prestasi Sholat masih bisa kita pakai, tapi akan lebih efektif kalau kita mengajak anak kita untuk membuat jadwal kegiatan harian termasuk didalamnya jadwal untuk sholat. Jadwal harian ini akan sangat membantu anak dan kita sebagai pengingat kegiatan yang harus dilakukan anak sehari-hari.

    Usia 10 tahun pada umumnya anak sudah baligh (yang perempuan sudah haidh dan yang laki-laki sudah mimpi basah). Dialogkan dan bahas dengan mereka ayat-ayat Al-Qur'an tentang balasan orang-orang yang mngerjakan sholat dan yang tidak mengerjakannya di dunia dan akhirat kelak. Ingatkan dengan tegas tentang palaksanaan sholat 5 waktu karena mereka sudah berkewajiban untuk melaksanakannya. Terus ingatkan mereka bahwa hanya anak yang sholihlah yang bisa menolong kedua orangtuanya di akhirat kelak dan Allah sangat mencintai orang yang mendirikan sholat.

    Jika kita sejak dini mengenalkan dan mengajarkan anak untuk sholat, InsyaAllah ketika beranjak remaja akan jauh mudah karena sudah menjadi kebiasaan dan anak sudah tahu manfaat dan hikmah sholat. Perlu kita ingat bahwa dalam pelaksanaannya pasti ada halangan dan rintangan, tapi dengan niat yang ikhlash doa-doa dan kecintaan kita pada anak InsyaAllah kita akan diberikan kekuatan, kesabaran dan jalan keluarnya. Nikmati prosesnya, sukses untuk kita semua. Aamiin.
    Flag Counter

    Daftar Isi