Orang Dinilai Dari Sifatnya yang Menonjol

Salah satu kebahagiaan kita adalah ketika sifat-sifat baik yang ada dalam diri kita bisa mengalahkan dan lebih menonjol daripada sifat-sifat buruk kita.  Dengan kondisi seperti itu biasanya kita akan mendapatkan stempel sebagai orang baik dan bahkan sift-sifat yang baik yang tidak ada dalam diri kita pun akan dipujikan kepada kita.  Ketika masyarakat sekitar mendengar dari orang lain tentang sifat-sifat buruk kita mereka akan sulit untuk percaya.  Hal ini bisa diibaratkan seperti "air apabila sudah mencapai dua kulah maka disebut suci", begitu pula manusia yang kebaikannya lebih menonjol maka dia dianggap sebagai orang baik, meskipun ada juga keburukannya.

Kita mungkin sering mendengar hinaan-hinaan orang kafir terhadap pribadi Rasulullah SAW. Bentukya juga bermacam-macam, mulai dari hinaan secara lisan, tulisan, kartun,  film dan sebagainya.  Namun itu semua sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Beliau di hati orang-orang beriman.  Karena kita lebih tahu bagaimana Rasulullah SAW itu sebenarnya dibandingkan para pencela itu.  Celaan-celaan dan hinaan itu tidak lain hanya akan kembali kepada mereka sendiri.

Sebagai seorang mukmin selayaknya setiap bertemu dengan orang lain, usahakan hanya mengeluarkan akhlaq-akhlaq terbaik kita.  Kita tidak tahu kapan kita akan menghadap kepadaNya.  Tentu, selain kita hanya mengharapkan balasan kebaikan dari Allah, kita juga akan dikenang sebagai orang yang baik, orang yang selalu memberikan manfaat dimanapun kita berada.

Rehat Sejenak

Mencintai Allah, berma'rifat kepadaNya, selalu berdzikir kepadaNya, mencari ketenangan denganNya, menenangkan hati dari sisiNya, takut, tawakkal dan berharap hanya kepadaNya dengan meyakini bahwa Dialah yang menguasai segala kemauan dan keinginan seorang hamba adalah surga dunia dan kenikmatan yang tidak bisa disamakan dengan kenikmatan lainnya.  Itu adalah kesenangan bagi mereka yang mencintai Allah.

Kebergantungan hati hanya kepada Allah, ketekunan hati untuk berdzikir kepadaNya dan qana'ah hati dapat menghilangkan keresahan dan kegundahan, melapangkan hati, dan mendatangkan kehidupan yang baik.  Tidak ada hati yang lebih sempit dan jiwa yang lebih resah daripada orang yang menggantungkan hatinya kepada selain Allah, yang lalai berdzikir kepada Allah dan yang tidak puas dengan apa yang diberikan Allah.

Mengajarkan Disiplin Kepada Anak

Disiplin dan tanggung jawab adalah sikap yang harus dibangun sejak dini.  Oleh karena itu keluarga perlu mendidik dan membiasakan seluruh anggota keluarganya agar mempunyai kebiasaan ini.  Kita bisa memulainya dengan membuat aturan bersama mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga disertai pengaturan waktunya.  Langkah selanjutnya adalah saling mengingatkan secara konsisten pelaksanaan aturan tersebut.  Bisa juga dengan memberikan hadiah bagi yang melaksanakan dan hukuman bagi yang melanggar.

Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah memberi contoh.  Kita harus menjadi orang pertama yang menaati dan melaksanakan aturan tersebut.  Dengan begitu anak-anak juga akan terdorong, terlatih dan akhirnya terbiasa menjalankannya.

Untuk melatih komitmen anak biasakan dan latih mereka melakukan sesuatu dengan bersungguh-sungguh, terutama setelah balita.  Kita juga bisa membantu anak untuk menulis komitmen dan pencapaian yang ia inginkan, (misalkan ia ingin juara kelas, ingin rajin sholat 5 waktu, dll) lalu tempel di tempat yang mudah terbaca.  Dengan cara itu kita bisa senantiasa mengingatkannya bila dia melanggar komitmennya.  Berikan pula penghargaan jika dia berhasil menjalankan komitmen tersebut dalam jangka waktu tertentu.

Tetapi perlu diingat bahwa semua pencapaian itu memerlukan proses.  Jika anak lupa ingatkan dengan baik, dan ajak untuk melakukan evaluasi serta mencari solusinya.  

Semua program itu hanya bisa dilakukan oleh orangtua yang memiliki manajemen waktu yang baik.  Jika kita masih sering lalai dan bermalas-malasan maka mempunyai anak-anak yang disiplin, bertanggung jawab dan berkomitmen hanya akan menjadi khayalan belaka.

Menata Hidup dengan Manajemen Waktu



Betapa banyak orang yang tidak bisa mengambil kesempatan emas hanya karena tidak mengelola waktunya dengan baik.  Hal-hal seperti, ketinggalan kereta karena tidak memperhitungkan waktu, ditolak pesanan barangnya oleh klien karena terlambat memenuhi jadwal kontrak, dll adalah beberapa contoh kesempatan yang hilang karena tidak adanya manajemen waktu yang baik.

Kesempatan dan waktu seperti dua saudara kembar.  Kesempatan ada jika waktunya tepat.  Jika kita lalai dengan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tak bermanfaat, maka banyak kesempatan yang hilang.  Dengan mengelola waktu, kita bisa memperoleh manfaat yang sangat banyak, diantaranya adalah:
  1. Meningkatnya produktivitas.   Seseorang yang mengelola waktunya dengan baik akan mampu menentukan aktivitas mana yang paling penting, sehingga dia bisa memfokuskan perhatiannya untuk aktivitas tersebut.  Dengan begitu ia akan selalu mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang paling penting dan akhirnya dia akan bisa mengatur waktu luang untuk dirinya.
  2. Meningkatnya kepuasan kerja.  Semakin banyak pekerjaan penting yang terselesaikan maka kepuasan kerja individu juga semakin meningkat.
  3. Mengurangi ketegangan dan kecemasan.  Manajemen waktu yang baik bisa mengurangi ketegangan dan kecemasan dalam hidup.  Dengan berkurangnya ketegangan dan kecemasan maka kita akan lebih jernih dalam menerima dan mengolah informasi yang masuk dan akan bisa mngambil keputusan dengan lebih baik.
Melawan Rasa Malas
 
Faktor pendukung yang membuat seseorang mempunyai manajemen waktu yang baik adalah rasa tanggung jawab, komitmen dan disiplin. Ada beberapa hal yang dapat menghambat manajemen waktu, tetapi yang paling dominan rasa malas.  Seringkali kita sudah membuat rencana yang sangat baik, tapi akhirnya tidak terlaksana karena rasa malas kita.

Bagaimana cara mengatasi rasa malas ini?  Cara yang pertama adalah dengan membangun mental disiplin, artinya cobalah tetap melakukan apa yang sudah kita rencanakan meskipun ada perasaan malas.  Saat kita disiplin dengan rencana kita maka akan muncul kepuasan tersendiri karena mampu mengatasi godaan rasa malas.  Perasaan puas itu bisa menjadi kekuatan awal dalam membangun benteng pertahanan melawan rasa malas.

Kedua, miliki tujuan yang jelas dari setiap aktivitas yang Anda lakukan.  Tujuan yang jelas dari aktivitas yang kita rencanakan akan membantu menghalai rasa malas.  Hal ini karena tujuan yang jelas akan menimbulkan motivasi/kemauan yang lebih besar kepada kita untuk melakukan aktivitas tersebut, karena kita sudah membayangkan hasil akhirnya ketika kita selesai melaksanakan aktivitas tersebut.


Ketiga, Tenanamkan dalam diri Kita bahwa hidup di dunia ini sangat terbatas dan hanya satu kali. Kita harus mempersiapkan bekal di waktu yang terbatas ini untuk kehidupan yang sangat panjang dan kekal kelak di akhirat. Jika kita sudah memahami konteks ini dengan baik, maka tidak akan ada waktu yang terlewat tanpa semangat dan niat untuk terus melakukan hal-hal baik sebagai bekal di kehidupan yang kekal.
 

Jika Tak Direncanakan Usia Kita Makin Tak Produktif



Seringkali kita mendengar seseorang mengatakan " biarlah hidup saya seperti air yang mengalir".  Mungkin beberapa dari kita juga mempunyai filosofi seperti itu juga ya.  Padahal air itu biasanya mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.  Artinya kalau kita tidak pernah merencanakan penggunaan waktu kita pastilah dari hari ke hari hidup kita semakin tidak menentu.

Setiap waktu dalam hidup kita adalah sangat berharga, oleh karenanya harus kita rencanakan.  Karena walaupun sudah direncanakan, kadang masih ada saja waktu tidak produktif yang kita lakukan. Apalagi kalau kita tidak membuat perencanaan.

Oke, sekarang mari kita hitung penggunaan waktu kita selama kita hidup.  Misalkan usia kita 50 tahun, istirahat dan makan membutuhkan 30 menit dan kita melakukan 3 kali sehari, jadi sehari 90 menit kalau usia kita 50 tahun berarti 3 tahu sendiri kita habiskan untuk istirahat dan makan.  Jika tidur kita rata-rata 8 jam sehari maka total waktu untuk tidur kita 16 tahun lebih. 
Dari beberapa penelitian/survey menunjukkan bahwa setelah usia 50 tahun, orang rata-rata menghabiskan waktunya sebanyak 2 tahun di kamar mandi, 5 tahun di perjalanan, 1 tahun untuk berpakaian dan berdandan (untuk laki-laki, perempuan 3 tahun).  Belum lagi untuk nonton TV, jalan-jalan, bersantai, dll.  Ternyata terbukti bahwa setengah atau lebih umur kita, kita habiskan untuk hal-hal yang tidak produktif.  Apa jadinya kalau sisa waktu yang selebihnya tidak kita rencanakan dengan baik???

Kabar baiknya adalah tidak ada kata terlambat untuk segera memulai merencanakan hidup dan mengelola waktu dengan baik dan benar.  Apabila Anda mulai menyadarinya saat ini, jadikan momentum munculnya kesadaran itu untuk segera berbenah diri.  Jika momentum ini hilang, kita tidak tahu harus berapa kali atau berapa lama lagi kita kehilangan kesempatan dalam hidup.




Bila Anak Anda Pemalu



Malu merupakan perasaan yang wajar.  Dalam beberapa hal perasaan malu justru sangat diperlukan.  Tetapi ketika kita melihat anak kita sulit membuka diri pada lingkungan yang baru, susah berteman dan menghindari pergaulan, maka kita perlu memberikan perhatian dan perlakuan yang tepat. 

Sangat penting bagi kita para orang tua untuk segera menyadari kalau anak kita pemalu.  Jangan malah menyangkal kondisi ini dan malah mengatakan anak kita baik-baik saja.  Segera cari tahu penyebabnya dan yang lebih penting cari tahu dan lakukan solusinya.

Meskipun ia tidak harus menjadi segera pemberani, Anda harus tetap mendorongnya untuk mengatasi rasa malunya dan membuatnya keluar dari ‘tempurung’-nya.  Berikut adalah beberapa penyebab dan solusi yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya:

  1. Jika anak sulit menghadapi situasi baru.  Anak akan sering mengalami situasi baru dan dia perlu belajar untuk cepat beradaptasi dengan situasi baru itu.  Karena pengalaman anak yang masih sedikit (dibanding orsng dewasa) maka anak kadang cenderung menghindar dari situasi baru ini.  Solusi: Dorong perubahan secara bertahap, jangan buru-buru anak segera berubah jadi pemberani.  Beri waktu kepada anak untuk belajar mengatasi rasa malunya sesuai kemauan dan kemampuannya.  anda tidak harus menargetkan kapan waktunya.  Beri pujian bila dia berhasil mengatasi rasa malunya.  Misalkan jika awalnya dia nggak mau berjabat tangan saat ketemu orang lain, maka ketika dia sudah mau berjabat tangan atau memberikan salam segera berikan pujian yang tulus.  Kalau sesekali masih muncul rasa malunya untuk memberi salam/berjabat tangan ketika ketemu orang lain itu wajar, jangan bereaksi negatif misal mengatakan "gimana sih kakak ni kok gak mau salaman lagi?".   Reaksi seperti itu dan apalagi disertai hukuman akan membuat anak semakin tertekan dan semakin malu. 
  2. Sering diancam, ditakut-takuti, deicela atau dikritik oleh orang tua atau pengasuhnya juga akan membuat anak jadi pemalu.  Anak akan selalu berprasangka bahwa dia akan mendapatkan reaksi yang negatif stiap bertemu orang lain.  Prasangka negatif inilah yang akan membuat anak menghindari pertemuan dengan orang lain.  Solusi: Hentikan kebiasaan mengancam, menakut-nakuti dan mencela untuk mendapatkan kepatuhan anak.  Gantikan dengan kata-kata atau kalimat yang positif, yang mengandung motivasi, semangat dan pujian yang akan membangkitkan harga diri Anak.  Ini akan sangat membantu anak mengatasi rasa malunya.  Daripada menyuruh dengan kalimat: "Ayo mandi, nanti kalau nggak mandi tidurnya diluar biar digit ular dan digendong setan" Lebih baik diganti denga kalimat: "Kakak mandi dulu yuk, mau pake ember apa pakai shower? Kalau udah mandi nanti pasti jadi wangi dan suegerrr.  Kakak juga jadi bersih dan sehat.  Anak Sholih pasti mau mandi.."
  3. Pengasuhan yang tidak konsisten.  Misalkan anak hari ini dihukum karena nggak mau sholat, tapi lain hari dibiarkan saja.  Anak akan menjadi bingung dan akhirnya jadi pemalu.  Solusi: Berlakulah kosisten dan terapkan disiplin yang baik, karena anak membutuhkan panduan yang jelas untuk mebangun perilakunya.  Panduan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan akan membuat anak percaya diri dan tahu resiko apa yang akan dihadapinya bila melakukan suatu perbuatan.
  4. Anak cenderung meniru orangtuanya.  Apabila orangtuanya pemalu maka anak akan cenderung menjadi pemalu juga.  Bukan karena genetis, tapi karena meniru.  Orang tua pemalu biasanya kurang bergaul dan tidak punya banyak teman sehingga anaknya akan kesulitan untuk belajar cara berteman dan cara berperilaku. Solusi: Atasi segera rasa malu Anda, tunjukkkan pada anak bagaimana cara bergaul, berperilaku dan berkomunikasi dengan orang lain.  Anda bisa mulai dengan menyapa orang yang berpapasan, memberi salam saat bertamu dan berpamitan, dll. Coba sesudah memperkenalkan dia pada seseorang, libatkan dalam percakapan. Setelah melalui ‘pemanasan’, umumnya rasa malunya sudah jauh berkurang.
  5. Bawaan Lahir.   Memang ada anak yang sudah tampak pemalu da usia 6 bulan, biasanya bayi yang pemalu akan tumbuh menjadi anak yang pemalu.  Solusi: Perkenalkan anak dengan lingkungannya sesering mungkin, misalkan sering ajak bertemu dengan sebanyak mungkin orang dan ajak untuk bekomunikasi dengan mereka, ajak ke pertemuan, ajak ke toko yang berbeda-beda dan ajak ngobrol dengan pelayannya, dll.
  6. Anak terlalu dilindungi  sehingga tidak punya kesempatan untuk mandiri dan kurang rasa percaya dirinya untuk membuat keputusan untuk dirinya sendir.  Anak yang terlalu dilindungi akan cenderung merasa selalu tidak aman sehingga menjadi pemalu.  Solusi: Mulai ajari anak untuk mandiri dan beri tanggung jawab sesuai usianya, misalkan beri kepercayaan anak untuk sisiran sendiri, gosok gigi sendiri, dll.  Beri kepercayaan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, misal mencari buku ceritanya yang terselip, dll.  Biarkan anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya, misal memilih mukenanya waktu diajak beli, memilih sepatu sendiri, dll.
  7. Orang tua tidak/kurang terlibat dalam mengasuh anak.  Ada beberapa orangtua yang sengaja tidak mau terlalu terlibat dalam mengasuh anak dengan alasan agar anak tidak terlalu tergantung kepadanya (manja).  Atau orangtua yang tidak punya waktu karena pekerjaan atau bisnisnya yang sangat menyita waktu.  Ketidakhadiran orangtua dalam hidupnya akan menyebabkan anak merasa bahwa dirinya kurang berharga bagi orang lain.  Anak akan merasa orang lain tidak berminat padanya.  Ketika ada orang yang memperhatikannya dia merasa tidak nyaman dan tidak aman.  Kadang juga anak menjadi panik ketika menjadi pusat perhatian.  Solusi:  berikan perhatian dan cinta yang cukup kepadanya.  Tunjukkan kepadanya bahwa Anda benar-benar peduli akan dia dan masa depannya dan biarkan dia tahu bahwa anda menyayanginya.  Anak yang tahu bahwa dirinya dicintai akan dengan mudah mengembangkan rasa percaya dirinya dan menghalau rasa/sifat pemalunya.
Selamat mencoba, semoga bermanfaat dan menjadikan anak-anak kiata menjadi anak-anak yang percaya diri dan mandiri.

Bila Anak Suka Membantah


Mungkin Anda pernah mengalami ini: ketika Anda meminta anak Anda membereskan mainannya atau mengajak mandi, selalu saja ada alasan untuk menolak permintaan Anda.  Memang kadang anak tidak selalu bersikap manis dan penurut.  Bahkan di saat-saat tertentu anak justru sering membantah. Jangan kaget menghadapinya. Dengan penanganan yang tepat, anak yang suka membantah bisa kok dijinakkan.
 Apa sih yang perlu kita  lakukan untuk mengatasinya hal tersebut?  Tenang deh... semua ada solusinya kok, coba langkah-langkah berikut, IsyaAllah akan membantu:
  1. Hargailah dan dengarkan dia, coba deh.. kita dengarkan dulu apa alasannya kenapa dia gak mau melakukan permintaan kita.   Dengan sikap yang penuh kasih sayang, adil dan menghargai anak, maka anak akan kooperatif.  Dia juga akan belajar untuk menghargai orang lain juga.  Bila anak merasa kebutuhannya untuk dimengerti terpenuhi maka ia akan merasakan begitu besar perhatian kita kepadanya.  Ini akan memperkecil penentangannya.
  2. Terangkan dengan jelas dan dengan kalimat yang positif kenapa dia harus melakukan permintaan Anda.  Contoh: daripada kita katakan "Ayo Kak, mainannya diberesin, Bunda tu nggak suka kalau mainan Kakak berantakan", coba deh kalimatnya sedikit diubah menjadi "Ayo Kak, mainannya diberesin lagi yuk, biar rapi dan nggak ada yang hilang, jadi besok kalau Kakak mau main lagi nggak susah nyarinya".  Anak kita akan senang mendapatkan perlakuan seperti ini.
  3. Jalinlah hubungan yang baik dengan anak.  Binalah hubungan yang hangat dan akrab dengan buah hati Anda.  Perhatikan kebutuhannya dan pastikan Anda memenuhinya.  Berkomunikasilah dengan hangat kepadanya dengan menyediakan waktu yang berkualitas.  Makin menyenangkan Anda dimata anak Anda maka ia akan lebih terbuka kepada Anda.
  4. Hindari hukuman fisik dan kata-kata yang menyakitkan saat mengingatkan anak kita.  Jika anak merasa direndahkan maka dia akan semakin "menjauh".  Jalinan komunikasi yang lancar, penerimaan dan penghargaan dari kita akan membuat anak merasa diterima, membangun percaya dirinya, dan mau bekerjasama.
Pastikan Anda melakukan usaha-usaha diatas dengan lembut, sabar namun tegas dan konsisten.  Pastikan juga Anda menyertainya dengan do'a agar mendapatkan hasil yang efektif.

Agar Anak Tidak Rewel Saat Akan Ditinggal Pergi


Mungkin Anda Ayah, Bunda, Abi, Ummi pernah mengalami tidak bisa menghadiri suatu acara karena buah hati anda menangis/rewel saat mau ditinggal.  Atau bahkan untuk pergi bekerja saja perlu perjuangan agar anak kita tidak menangis dan merelakan anda untuk pergi.  Kadang kita mengakalinya dengan pergi secara diam-diam tanpa berpamitan pada anak kita.  he..he..he.. yang ini saya juga pernah melakukan lho..  Memang kalau kurang ilmu biasanya kita nyari solusi instan.

Ada beberapa sebab anak kita rewel ketika mau ditinggal perdi:
  1. Terlalu dekat dengan orang tua.  Kedekatan dengan anak sangat diperlukan agar anak merasa aman, tetapi kalau terlalu dekat misalnya sikap kita yang terlalu melindungi dan menemani dia keman-mana akan menyebabkan anak susah ditinggal.
  2. Terlalu dimanja.  Biasanya kita memanjakan anak agar anak diam (tidak menangis/merengek) atau untuk kompensasi karena kita telah meninggalkannya.  Tapi hal ini ternyata bisa menyebabkan anak menjadi tidak mandiri.
  3. Trauma karena ditinggal pergi secara diam-diam.  Orang tua sering pergi secara diam-diam (nglimpekke - bahasa jawa) agar anak tidak rewel ketika kita mau pergi.  Padahal cara ini bisa menimbulkan trauma pada anak.  Anak tiba-tiba menemukan orangtuanya lenyap, maka besok dia akan berusaha semaksimal dia untuk menahan orangtuanya agar tidak pergi.
Terus bagaimana donk solusinya???  Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk melatih anak kita agar rela kita tinggal pergi:
  1. Kenalkan dan dekatkan anak-anak kita dengan orang disekitarnya, seperti kakek, nenek, pembantu, kakak, tetangga dll sehingga ketika dia kita tinggal pergi tidak merasa sendirian dan tetap merasa aman dan nyaman.
  2. Latih dia dengan perpisahan-perpisahan kecil, misal kita tinggal belanja ke warung sebelah, dll.  Hal ini akan membuat anak terbiasa dan lama kelamaan merasa 'owh ternyata ga papa tuh ditinggal'
  3. Jangan pergi tanpa berpamitan.  Sering kita berpikir pergi dengan diam-diam sepertinya cara  paling gampang, tapi jika anak kita mencari-cari dan tiba-tiba Anda tidak ada, dia mulai berpikir Anda dapat menghilang kapan saja.  Ini hanya akan meningkatkan rasa ketergantungan anak terhadap Anda.  Datanglah dengan ungkapan salam perpisahan lucu yang biasa dilakukan. Bisa berupa ciuman di kening, nyanyian atau tarian.
  4. Cobalah untuk mengkomunikasikan pada anak kenapa setiap hari anda harus pergi (bekerja/bisnis/).  Hal ini akan membuat anak lama-kelamaan akan paham dan mengerti kenapa orang tuanya pergi. Mereka juga akan lebih siap secara mental untuk ditinggal pergi.
  5.  Yang paling utama adalah do'akan anak-anak kita agar menjadik anak-anak yang sholih dan mandiri.
Semoga manfaat...
Wallahua'lam bisshowab

Cara Mendidik Anak Sholat Lima Waktu


Ayah, Bunda, Abi dan Ummi yang mendambakan anak yang sholih.... 
Anak adalah salah satu amanah yang Allah karuniakan kepada kita. Anak adalah cahaya mata, yang juga bisa menjadi penyejuk hati kala kita gundah. Semua orang tua mendambakan mempunyai anak yang sholih, cerdas dan sehat. Semua anak adalah cerdas di bidangnya masing-masing. Kewajiban kita adalah memfasilitasi kecerdasan tersebut agar kelak bisa menjadi bekal hidupnya yang mandiri.

Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tetapi kesholihan yang kita dambakan pada anak-anak kita bukanlah hal yang terbentuk tiba-tiba atau instan. Kita harus mengupayakannya sejak dini, sehingga ketika anak-anak beranjak remaja dan dewasa, karakter-karakter positif yang kita harapkan sudah terinstall dengan baik dalam diri anak-anak kita.

Memperkenalkan ibadah-ibadah seperti sholat, membaca Al-Qur'an, puasa dan lain-lainnya kepada anak haruslah dengan cara yang positif dan menyenangkan. Kitika anak masih berusia BALITA maka yang lebih penting adalah keteladanan. Contohnya, apabila kita membaca Al-Qur'an, bacalah dekat-dekat anak kita sehingga mereka terbiasa mendengar ayat-ayat Al-Qur'an. Jika kita sedang puasa ramadhan terangkan bagaimana puasa itu dan manfaat apa yang akan kita dapatkan dari puasa baik di dunia dan akhirat kelak. Jika kita mau bershodaqoh atau infaq ajaklah anak-anak kita dan coba sekali-kali biarkan mereka yang memberikanya. Dengan begitu anak akan termotivasi dan mulai terbiasa untuk melakukannya.

Masa Balita adalah periode emas pertumbuhan anak kita. Apabila pada periode ini kita setiap saat, setiap hari mengkondisikan anak-anak kita untuk melihat, mendengar dan melakukan ibadah-ibadah itu maka InsyaAllah langkah selanjutnya akan lebih mudah. Sangat penting juga diperhatikan oleh kita bahwa anak balita tidak boleh dipaksa untuk melakukan sholat atau ibadah-ibadah yang lain, karena dikhawatirkan hal itu akan menimbulkan persepsi-persepsi negatif anak tentang sholat dan ibadah-ibadah yang lain tersebut. Dia akan beranggapan bahwa sholat itu nggak enak, nggak asyik, dipaksa-paksa dan sebagainya.

Ayah, Abi, Ummi dan Bunda juga bisa melakukan hal-hal berikut ini untuk memotivasi anak kita yang masih BALITA melakukan sholat:
  1. Banyak-banyaklah bercerita dan berdialog dengannya tentang kebaikan-kebaikan dan nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita. Ceritakanlah betapa Allah sangat mencintai kita dengan memberikan kita begitu banyak hal yang kita butuhkan di dunia ini.
  2. Ceritakanlah juga tentang syurga yang akan dikaruniakan Allah kepada orang-orang yang gemar beramal sholih. Ceritakan bagaimana nikmatnya di syurga itu sehingga anak kita sejak dini sudah termotivasi untuk bisa masuk syurga. Ceritakanlah juga tentang betapa sakit dan pedihnya siksa di neraka sebagai balasan orang-orang yang tidak sholih.
  3. Manfaatkan momen-momen tertentu untuk mengingatkan anak kita. Misalnya ketika ulang tahun(bukan untuk dirayakan lho...) atau naik dari kelas KB ke TK katakan: "Subhanallah Kakak sekarang sudah besar sudah 4 tahun, berarti sholatnya juga harus tambah rajin yah? Abi, Ummi dan Allah pastinya makin sayang sama Kakak".
  4. Berikan pujian secara langsung ketika anak ikut sholat dengan kita.

Ketika anak berusia 5-7 tahun daya pikir anak sudah semakin berkembang. Kita bisa mulai mengajak dan mengajarkan tata cara sholat atau ibadah-ibadah yang lain. Kita bisa membelikannya mukena, peci, gamis atau sajadah dan biarkan dia yang memilih sendiri yang mereka sukai. Pada usia ini, hal-hal berikut bisa kita lakukan untuk memotivasi anak membiasakan sholat:
  1. Membuat Tabel Bintang Prestasi Sholat. Setiap kali anak sholat maka dia berhak mendapatkan 1 bintang yang bisa dia tempel di tabel itu. Nanti setelah satu pekan, bintang-bintang itu bisa dia tukar dengan hadiah yang sudah kita sepakati dengannya. Misalnya kalau punya 20 bintang dapat hadiah pensil warna, kalau 30 atau lebih dapat buku cerita baru, dll. Yang perlu diingat janganlah kita menetapkan target yang terlalu tinggi misalkan harus full 5 waktu, harus benar bacaan dan jumlah roka'atnya. Untuk anak usia 5 tahun sholat tepat waktu, meski bacaan, gerakan dan roka'atnya belum tepat sudah sangat bagus. Pada usia ini cukup ajarkan membaca Al-Fatihah dan gerakan-gerakan sholat dengan benar. Atau bisa juga dekenalkan nama-nama sholat dan jumlah roka'atnya dengan lagu-lagu misalnya. Setelah usia 6 tahun bisa mulai kita ajarkan doa ruku', sujud, iftitah, tashahud dan surat-surat pendek. Perlu diingat untuk Ayah dan Bunda bahwa pada tahap ini (5-7 tahun) anak masih BELAJAR, dan secara syar'i pun mereka juga belum memikul kewajiban untuk sholat tepat waktu dengan benar. 
  2. Mengajak anak berdialog tentang pentingnya sholat, keutamaan dan hikmah orang yang sholat sehingga anak termotivasi untuk terus menjaga sholatnya. Gunakan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami anak kita.
  3. Berikan ucapan terimakasih dan pujian setiap kali anak kita selesai sholat.
  4. Ajaklah anak sholat di masjid, tapi sebelumnya terangkan adab-adabnya misalnya tidak boleh ramai atau bercanda dan lain-lain.
Ketika Anak kita berusia 7 - 10 tahun kita harus lebih tegas dalam mengajak dan mengingatkan anak kita untuk solat 5 waktu. Jangan pernah bosan ataupun terpancing marah. Bagaimanapun pada usia ini anak belum baligh sehingga sebenarnya dia belum wajib sholat. Apa yang kita upayakan adalah untuk membiasakan anak untuk melaksnakan sholat 5 waktu. Sering-seringlah mengajak anak berdialog tentang harapan-harapan kita terhadap mereka mengenai pelaksanaan sholat dan ibadah-ibadah yang lain. Contoh: "Bunda akan sangat bahagia kalau Adek rajin sholat 5 waktu. Anak yang sholih kelak di akhirat bisa menjadi penolong Bunda dan Ayah". Selalu berikan pujian jika anak sholat 5 waktu apalagi kalau tepat waktu dan berjamaah. Tabel Bintang Prestasi Sholat masih bisa kita pakai, tapi akan lebih efektif kalau kita mengajak anak kita untuk membuat jadwal kegiatan harian termasuk didalamnya jadwal untuk sholat. Jadwal harian ini akan sangat membantu anak dan kita sebagai pengingat kegiatan yang harus dilakukan anak sehari-hari.

Usia 10 tahun pada umumnya anak sudah baligh (yang perempuan sudah haidh dan yang laki-laki sudah mimpi basah). Dialogkan dan bahas dengan mereka ayat-ayat Al-Qur'an tentang balasan orang-orang yang mngerjakan sholat dan yang tidak mengerjakannya di dunia dan akhirat kelak. Ingatkan dengan tegas tentang palaksanaan sholat 5 waktu karena mereka sudah berkewajiban untuk melaksanakannya. Terus ingatkan mereka bahwa hanya anak yang sholihlah yang bisa menolong kedua orangtuanya di akhirat kelak dan Allah sangat mencintai orang yang mendirikan sholat.

Jika kita sejak dini mengenalkan dan mengajarkan anak untuk sholat, InsyaAllah ketika beranjak remaja akan jauh mudah karena sudah menjadi kebiasaan dan anak sudah tahu manfaat dan hikmah sholat. Perlu kita ingat bahwa dalam pelaksanaannya pasti ada halangan dan rintangan, tapi dengan niat yang ikhlash doa-doa dan kecintaan kita pada anak InsyaAllah kita akan diberikan kekuatan, kesabaran dan jalan keluarnya. Nikmati prosesnya, sukses untuk kita semua. Aamiin.
Flag Counter

Daftar Isi